Wednesday, January 24, 2007

Siapa Bilang OSS itu = Gratis?

Kata Free pada Free/Open Source Software (FOSS) seringkali disalah artikan dan dipergunakan oleh orang-orang yang ingin memperkenalkan OSS sebagai "gratis". Namun dengan seiring berjalannya waktu, kalau saya pribadi lebih cenderung untuk menyorotinya dari sisi "Total Ownership Cost" yang secara langsung maupun tidak langsung saya anggap lebih rendah namun lebih valuable ketimbang propietary software (tapi software bajakan tidak termasuk di dalamnya).

Kita tidak bisa begitu saja menjual kata "Free" kepada orang lain di luar OSS sebagai gratis karena dalam implementasi dan maintenance-nya pun OSS membutuhkan biaya, yang secara tidak langsung pengeluaran tambahan sebesar Rp 1,- sudah menyatakan software tersebut tidak gratis lagi. Misalkan bila kita berhadapan dengan orang yang sehari-harinya, bahkan yang sudah mendarah daging menggunakan MS Office, akan ada cost lain yang perlu dikeluarkan diluar sekedar meng-install OpenOffice di komputer yang bersangkutan. Training......ya itu adalah salah satu biaya yang jelas sekali harus dikeluarkan. Dan jangan lupa juga ada nilai produktivitas yang mungkin dalam hitungan 1-2 bulan pertama menjadi sangat rendah dan bisa merugikan sebuah organisasi atau pekerjaan yang orang tersebut lakukan (karena orang tersebut belum terbiasa menggunakan OpenOffice pasti pekerjaan dilakukan lebih lambat dari biasa, apalagi bila mendapat dokumen dari pihak lain yang setelah dibuka di OpenOffice menjadi berantakan dan harus dirapikan kembali --> 2x kerja).

Biaya-biaya di atas, plus tentunya ada biaya lainnya, seharusnya dimasukkan oleh kita sebagai biaya yang harus dikeluarkan dalam implementasi OSS sebagai alternatif Propietary Software. Lah terus kenapa harus menggunakan OSS kalau berbayar juga? Sebelum saya mulai, sekali lagi saya tekankan bahwa ini tidak mencakup software bajakan. Mari kita melakukan hitung-hitungan kasar (aplikasi standar untuk perkantoran):


*Propietary Software*
MS Windows + MS Office + Antivirus = Rp 3.000.000,-

*OSS (GNU/LINUX)*
Ubuntu + OpenOffice = Gratis + Rp 500.000,-

*Keterangan*
Perhitungan di atas hanyalah permisalan saja dan untuk propietary software hanyalah untuk pembelian license awal dan tidak termasuk upgrade version software atau perpanjangan license. Sementara di bagian OSS biaya tersebut adalah biaya di luar mendapatkan distro Ubuntu-nya.


Dari perhitungan yang sangat kasar di atas itu, saya ingin menggaris bawahi bahwa untuk kepemilikan software, biaya OSS lebih murah bila dibandingkan dengan propietary software. Belum lagi bila ditambahkan dengan biaya yang harus dikeluarkan bila adanya versi terbaru dari software-software yang kita gunakan tersebut dan kita ingin meng-upgradenya (yah tentunya jika menggunakan distro lain yang berbayar, biayanya akan berbeda namun saya rasa tetap lebih rendah).
Untuk tahap awal, dengan biaya Rp 500.000,- kita bisa mendapatkan software legal dan mendapat kebebasan untuk memodifikasinya sesuai keinginan kita (coba bayangkan berapa lagi biaya yang harus dikeluarkan apabila kita ingin meng-customize software propietary untuk keperluan kita).

In conclusion (jadi ingat sesuatu hehehe....), kalau menurut saya pribadi, penggunaan kata "Gratis" yang selalu didengung-dengungkan oleh teman-teman penggiat OpenSource kepada orang lain perlu sedikit diperbaiki sehingga kita semua tidak terjebak dengan "Gratis" dan bisa menimbulkan efek negatif ketika misalkan orang tersebut merasa tertipu bahwa masih ada "biaya-biaya" lain yang diperlukan meski menggunakan OSS.

sekian,

PS: bisa gila gw kalo terus2an bikin tulisan serius kayak gini huahahaha.........

3 comments:

Andre said...

Loh, khan memang begitu ...
"Free" yg dimaksud adalah "Free as in free speech", bukan "free as in free beer". Jadi kalo memang ga gratis yah sah2 saja

kunderemp said...

Sudah lah,Fe..

Gunakan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar.

Sistem Operasi Bebas.
Peranti Lunak Bebas.

Dan kata "Perangkat Lunak Bebas" sudah jadi official translation menurut situs Free Software Foundation.

Affan Basalamah said...

Komentar saya tentang movement Opensource (terutama Linux) saya tulis di sini