Finally my .ID domain already created. And for that reason, I will migrate to my new house and start blogging there and leave this blog behind :)) --> I don't know how many times I did this thing.
So please update or your links to: www.feha.web.id
Wednesday, January 31, 2007
Tuesday, January 30, 2007
Petugas Yang Cerdik
Tadi pagi ketika gw sedang menuju rumah seorang teman, gw bingung sekali melihat perempatan Ragunan dan Mampang yang sangat padat dan cenderung semrawut sementara perempatan dekat Trakindo dan Fatwati meski sangat padat tapi cukup tertib. Di dua perempatan terakhir itu pun banyak petugas (mulai dari kepolisian, DLLAJR, sampai dengan polisi militer) yang berjaga dan membantu mengatur arus lalu lintas yang seperti biasanya sangat bikin pusing di pagi hari.
Ternyata eh ternyata, gw baru tahu bahwa petugas memang tidak ada di perempatan dekat dengan Departemen Pertanian itu, melainkan mereka asyik dan sibuk berjaga dekat perempatan setelahnya (gw gak tahu apa itu namanya) menilang para pengendara motor yang nekat masuk ke jalur busway. OMG kok gw gak kepikiran ke sana yah?
Instead of berjaga dan melancarkan arus lalu lintas yang setiap pagi memang bikin gila, memang lebih baik berjaga di tempat "basah" yah? Penghasilan jelas bertambah.....
Mereka sangat cerdik.....pintar melihat peluang bisnis......
Ternyata eh ternyata, gw baru tahu bahwa petugas memang tidak ada di perempatan dekat dengan Departemen Pertanian itu, melainkan mereka asyik dan sibuk berjaga dekat perempatan setelahnya (gw gak tahu apa itu namanya) menilang para pengendara motor yang nekat masuk ke jalur busway. OMG kok gw gak kepikiran ke sana yah?
Instead of berjaga dan melancarkan arus lalu lintas yang setiap pagi memang bikin gila, memang lebih baik berjaga di tempat "basah" yah? Penghasilan jelas bertambah.....
Mereka sangat cerdik.....pintar melihat peluang bisnis......
Saturday, January 27, 2007
Kecewa Dengan Pengelola Domain .ID
Dari hari Minggu 21 Januari 2007 hingga saat tulisan ini dibuat, domain www.feha.web.id yang saya pesankan melalui http://register.net.id belum juga kunjung terbuat. Statusnya masih terus "pending create". Saya sendiri kurang tahu apa arti dari status tersebut.
Saya sudah menanyakan masalah ini melalui fitur hepdesk yang saya lihat ada di salah satu bagian menunya, namun hingga saat ini belum juga ada jawaban. Yah mungkin inilah nasib yang harus saya terima, mengharap layanan prima dari sebuah lembaga yang nampaknya kok yah mustahil. Beda sekali dengan pembelian domain internasional seperti .com, .net dan .org.
Hah....banyak2 mengelus dada nih........
updated:
Sampai hari ini belum terbentuk juga tuh domain.....
sudah mulai sangat BT
Saya sudah menanyakan masalah ini melalui fitur hepdesk yang saya lihat ada di salah satu bagian menunya, namun hingga saat ini belum juga ada jawaban. Yah mungkin inilah nasib yang harus saya terima, mengharap layanan prima dari sebuah lembaga yang nampaknya kok yah mustahil. Beda sekali dengan pembelian domain internasional seperti .com, .net dan .org.
Hah....banyak2 mengelus dada nih........
updated:
Sampai hari ini belum terbentuk juga tuh domain.....
sudah mulai sangat BT
Friday, January 26, 2007
Pendaftaran KI Fasilkom UI 2006/2007
Pendaftaran Kelas Internasional Gelombang I, periode semester ganjil 2007/2008
- Pendaftaran : 19 Februari - 27 Maret 2007
- Ujian Seleksi : 31 Maret - 1 April 2007
- Pengumuman : 7 April 2007
Persyaratan :
- Lulusan SMU/ Sederajat
- Mengikuti Ujian Masuk Program Internasional UI (terdiri dari TPA dan Tes Bahasa Inggris)
- Membayar biaya pendaftaran sebesar US$ 100 ke Bank BNI UI Depok, nomor rekening 6697243 atas nama UI Internasional
- Fotocopy Rapor SMU
- Fotocopy KTP
- Foto berwarna 2 lembar uk. 4X6
- Fotocopy ijazah SMU (dapat menyusul bila calon mahasiswa masih berstatus pelajar SMU kelas 3 saat pendaftaran)
- Nilai TOEFL /IELTS jika ada.
Pendaftaran dapat dilakukan pada :
Senin-Jumat pukul 09.00 - 17.30,
di Sekretariat kademik Fasilkom UI, Ged. B Lt.2 Kampus UI Depok
Wednesday, January 24, 2007
Siapa Bilang OSS itu = Gratis?
Kata Free pada Free/Open Source Software (FOSS) seringkali disalah artikan dan dipergunakan oleh orang-orang yang ingin memperkenalkan OSS sebagai "gratis". Namun dengan seiring berjalannya waktu, kalau saya pribadi lebih cenderung untuk menyorotinya dari sisi "Total Ownership Cost" yang secara langsung maupun tidak langsung saya anggap lebih rendah namun lebih valuable ketimbang propietary software (tapi software bajakan tidak termasuk di dalamnya).
Kita tidak bisa begitu saja menjual kata "Free" kepada orang lain di luar OSS sebagai gratis karena dalam implementasi dan maintenance-nya pun OSS membutuhkan biaya, yang secara tidak langsung pengeluaran tambahan sebesar Rp 1,- sudah menyatakan software tersebut tidak gratis lagi. Misalkan bila kita berhadapan dengan orang yang sehari-harinya, bahkan yang sudah mendarah daging menggunakan MS Office, akan ada cost lain yang perlu dikeluarkan diluar sekedar meng-install OpenOffice di komputer yang bersangkutan. Training......ya itu adalah salah satu biaya yang jelas sekali harus dikeluarkan. Dan jangan lupa juga ada nilai produktivitas yang mungkin dalam hitungan 1-2 bulan pertama menjadi sangat rendah dan bisa merugikan sebuah organisasi atau pekerjaan yang orang tersebut lakukan (karena orang tersebut belum terbiasa menggunakan OpenOffice pasti pekerjaan dilakukan lebih lambat dari biasa, apalagi bila mendapat dokumen dari pihak lain yang setelah dibuka di OpenOffice menjadi berantakan dan harus dirapikan kembali --> 2x kerja).
Biaya-biaya di atas, plus tentunya ada biaya lainnya, seharusnya dimasukkan oleh kita sebagai biaya yang harus dikeluarkan dalam implementasi OSS sebagai alternatif Propietary Software. Lah terus kenapa harus menggunakan OSS kalau berbayar juga? Sebelum saya mulai, sekali lagi saya tekankan bahwa ini tidak mencakup software bajakan. Mari kita melakukan hitung-hitungan kasar (aplikasi standar untuk perkantoran):
*Propietary Software*
MS Windows + MS Office + Antivirus = Rp 3.000.000,-
*OSS (GNU/LINUX)*
Ubuntu + OpenOffice = Gratis + Rp 500.000,-
*Keterangan*
Perhitungan di atas hanyalah permisalan saja dan untuk propietary software hanyalah untuk pembelian license awal dan tidak termasuk upgrade version software atau perpanjangan license. Sementara di bagian OSS biaya tersebut adalah biaya di luar mendapatkan distro Ubuntu-nya.
Dari perhitungan yang sangat kasar di atas itu, saya ingin menggaris bawahi bahwa untuk kepemilikan software, biaya OSS lebih murah bila dibandingkan dengan propietary software. Belum lagi bila ditambahkan dengan biaya yang harus dikeluarkan bila adanya versi terbaru dari software-software yang kita gunakan tersebut dan kita ingin meng-upgradenya (yah tentunya jika menggunakan distro lain yang berbayar, biayanya akan berbeda namun saya rasa tetap lebih rendah).
Untuk tahap awal, dengan biaya Rp 500.000,- kita bisa mendapatkan software legal dan mendapat kebebasan untuk memodifikasinya sesuai keinginan kita (coba bayangkan berapa lagi biaya yang harus dikeluarkan apabila kita ingin meng-customize software propietary untuk keperluan kita).
In conclusion (jadi ingat sesuatu hehehe....), kalau menurut saya pribadi, penggunaan kata "Gratis" yang selalu didengung-dengungkan oleh teman-teman penggiat OpenSource kepada orang lain perlu sedikit diperbaiki sehingga kita semua tidak terjebak dengan "Gratis" dan bisa menimbulkan efek negatif ketika misalkan orang tersebut merasa tertipu bahwa masih ada "biaya-biaya" lain yang diperlukan meski menggunakan OSS.
sekian,
PS: bisa gila gw kalo terus2an bikin tulisan serius kayak gini huahahaha.........
Kita tidak bisa begitu saja menjual kata "Free" kepada orang lain di luar OSS sebagai gratis karena dalam implementasi dan maintenance-nya pun OSS membutuhkan biaya, yang secara tidak langsung pengeluaran tambahan sebesar Rp 1,- sudah menyatakan software tersebut tidak gratis lagi. Misalkan bila kita berhadapan dengan orang yang sehari-harinya, bahkan yang sudah mendarah daging menggunakan MS Office, akan ada cost lain yang perlu dikeluarkan diluar sekedar meng-install OpenOffice di komputer yang bersangkutan. Training......ya itu adalah salah satu biaya yang jelas sekali harus dikeluarkan. Dan jangan lupa juga ada nilai produktivitas yang mungkin dalam hitungan 1-2 bulan pertama menjadi sangat rendah dan bisa merugikan sebuah organisasi atau pekerjaan yang orang tersebut lakukan (karena orang tersebut belum terbiasa menggunakan OpenOffice pasti pekerjaan dilakukan lebih lambat dari biasa, apalagi bila mendapat dokumen dari pihak lain yang setelah dibuka di OpenOffice menjadi berantakan dan harus dirapikan kembali --> 2x kerja).
Biaya-biaya di atas, plus tentunya ada biaya lainnya, seharusnya dimasukkan oleh kita sebagai biaya yang harus dikeluarkan dalam implementasi OSS sebagai alternatif Propietary Software. Lah terus kenapa harus menggunakan OSS kalau berbayar juga? Sebelum saya mulai, sekali lagi saya tekankan bahwa ini tidak mencakup software bajakan. Mari kita melakukan hitung-hitungan kasar (aplikasi standar untuk perkantoran):
*Propietary Software*
MS Windows + MS Office + Antivirus = Rp 3.000.000,-
*OSS (GNU/LINUX)*
Ubuntu + OpenOffice = Gratis + Rp 500.000,-
*Keterangan*
Perhitungan di atas hanyalah permisalan saja dan untuk propietary software hanyalah untuk pembelian license awal dan tidak termasuk upgrade version software atau perpanjangan license. Sementara di bagian OSS biaya tersebut adalah biaya di luar mendapatkan distro Ubuntu-nya.
Dari perhitungan yang sangat kasar di atas itu, saya ingin menggaris bawahi bahwa untuk kepemilikan software, biaya OSS lebih murah bila dibandingkan dengan propietary software. Belum lagi bila ditambahkan dengan biaya yang harus dikeluarkan bila adanya versi terbaru dari software-software yang kita gunakan tersebut dan kita ingin meng-upgradenya (yah tentunya jika menggunakan distro lain yang berbayar, biayanya akan berbeda namun saya rasa tetap lebih rendah).
Untuk tahap awal, dengan biaya Rp 500.000,- kita bisa mendapatkan software legal dan mendapat kebebasan untuk memodifikasinya sesuai keinginan kita (coba bayangkan berapa lagi biaya yang harus dikeluarkan apabila kita ingin meng-customize software propietary untuk keperluan kita).
In conclusion (jadi ingat sesuatu hehehe....), kalau menurut saya pribadi, penggunaan kata "Gratis" yang selalu didengung-dengungkan oleh teman-teman penggiat OpenSource kepada orang lain perlu sedikit diperbaiki sehingga kita semua tidak terjebak dengan "Gratis" dan bisa menimbulkan efek negatif ketika misalkan orang tersebut merasa tertipu bahwa masih ada "biaya-biaya" lain yang diperlukan meski menggunakan OSS.
sekian,
PS: bisa gila gw kalo terus2an bikin tulisan serius kayak gini huahahaha.........
Tuesday, January 23, 2007
IT Bukanlah Dewa
Banyak diantara kita yang berpikir bahwa bila IT sudah turun tangan maka seluruh masalah bisa teratasi. Siapa bilang?
IT bukanlah dewa.....IT hanya alat bantu yang mempermudah hidup manusia. Toh IT itu dilandasi oleh mesin-mesin yang notabene diciptakan manusia pula. Dan kodrat manusia adalah tidak sempurna.
Sedih rasanya bila kita sudah berusaha memberikan penjelasan kepada orang-orang mengenai sebuah masalah, namun dengan serta-merta dan tak peduli mereka tetap dan bahkan menghina sistem yang ada. Apakah memang ini adalah fase yang harus dilalui oleh para praktisi IT di Indonesia sebelum IT Indonesia stabil dan orang-orangnya melek teknologi?
IT bukanlah dewa.....IT hanya alat bantu yang mempermudah hidup manusia. Toh IT itu dilandasi oleh mesin-mesin yang notabene diciptakan manusia pula. Dan kodrat manusia adalah tidak sempurna.
Sedih rasanya bila kita sudah berusaha memberikan penjelasan kepada orang-orang mengenai sebuah masalah, namun dengan serta-merta dan tak peduli mereka tetap dan bahkan menghina sistem yang ada. Apakah memang ini adalah fase yang harus dilalui oleh para praktisi IT di Indonesia sebelum IT Indonesia stabil dan orang-orangnya melek teknologi?
Sunday, January 21, 2007
Vandalisme Cinta
Jatuh cinta berjuta rasanya.....
Berjuta rasanya hingga orang yang sedang mengalaminya mendadak menjadi orang lain yang penuh kreativitas dan ekspresif. Kenangan itu pun tak ingin dilewatkan dan disia-siakan begitu saja tanpa ada suatu tanda yang dapat melekat dalam waktu yang lama. Foto, video, barang-barng pemberian bahkan tatoo digunakan oleh sebagian besar orang untuk mengekspresikan cinta meraka sebagai kenangan yang indah.
Namun demikian, tidak jarang juga cinta itu pun diekspresikan dengan cara yang salah dan menjurus merugikan kepentingan. Salah satu contohnya adalah berupa kenangan yang ditorehkan para pelakunya di sepanjang jalan layang Pasopati, Bandung. Sedih ketika melihat dinding dari tiang-tiang penyangga serta rambu-rambu yang terpancang dikotori oleh tulisan-tulisan vandal dari mereka, yang sebenarnya bisa lebih baik. "I Love you forever...." "Never forget you...." adalah beberapa contoh yang tertulis di sana.
Belum lagi bila kita melihat pohon-pohon besar yang sudah cukup tua di pinggiran kota Bandung, pasti vanadalisme seperti ini pun mudah kita temui.
Apakah memang harus seperti ini seseorang mengekspresikan "cinta" yang mereka miliki? Ataukah arti cinta masa kini memang demikian adanya, bahwa kalau bisa semua orang tahu?
Subscribe to:
Posts (Atom)